RESUME MK SOSIOLOGI UMUM BAB 3 &4

BAB 3
DEBAT SOSIOLOGI MARXISME VS
POST-MARXISME (POSMODERNISME)

Teori marxisme dalam kajian sosiologi secara jelas tak
dapat diabaikan begitu saja. Posisi dan perannya dalam
sosiologi, dalam masyarakat (baik secara teoretis maupun
praktik) hingga kini telah mewarnai dunia ilmu sosial dan politik
yang signifikan. Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa teori Marxis juga merambah pada tingkat praktik sosial dan politik yang punya andil
besar dalam mengubah realitas sejarah.

A. SOSIOLOGI MARXIS DAN MITOS “AKHIR SEJARAH”
FUKUYAMA
Sebagian besar rezim tersebut telah tumbang, terutama dalam
pertarungan politik dengan kekuatan kapitalis di bawah pimpinan
Amerika Serikat (AS) di era Perang Dingin . Sejak memasuki 1990,
setelah runtuhnya tembok Berlin, banyak yang beranggapan bahwa
komunisme sudah menjadi “ akhir dari sejarah”.
Sebenarnya, sanggahan terhadap tesis utopis itu bukan hanya
terbantahkan dengan fakta sejarah. Secara teoretis dan akademis, juga
telah banyak yang melontarkan kritik dan “kutukan”.
Menurutnya, baik spirit maupun hantu, Marx akan tetap ada, tak peduli apa pun pernyataan yang dikemukakan Fukuyama dan para pengikutnya mengenai keruntuhan politik komunisme .
fokus bahasan ini tidak akan memolemikkan melenyapnya negara dan datangnya komunisme . Marx memang menganalisis sejarah masyarakat atas dasar materialnya dan meletakkan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi sebagai
hukum sejarah objektif. kita akan melihat potensi kehancuran kapitalisme dan bangkitnya gerakan kelas pekerja di era globalisasi sekarang ini.Pada saat tenaga produksinya macet, kelas pekerja dan rakyat juga terus saja melakukan konsolidasi gerakan melawan ketidakadilan dan penindasan.
Jika kita jeli membaca situasi perekonomian global, krisis yang
terjadi dalam kapitalisme global tak bisa dielakkan. Di Amerika, ekspansi kredit konsumsi telah mendorong hutang rumah tangga meningkat hingga 107%; di Jerman, 115%; di Jepang, 132%; dan di I nggris, 118% dibandingkan pendapatan setelah
dipotong pajak. Letupan-letupan krisis terus melanda perekonomian negeri,negeri imperialis utama. Krisis itu tidak lepas dari guncangan masa-masa sebelumnya. kemerosotan ekonomi domestik diatasi dengan
pemotongan kapasitas produksi yang mendorong PHK-PHK massal; Pada 1990-an, jatuhnya popularitas pemerintahan konservatif di Eropa telah membawa kemenangan suara par tai-partai Kiri dan Kiri tengah, yang mayoritas suaranya berasal dari kelas pekerja Gerakan perlawanan anti-globalisasi memang benar-benar
mulai semarak setelah pertengahan tahun 1990-an ketika jumlah
besar pekerja (buruh , petani, dan masyarakat lainnya melakukan
protes terhadap globalisasi dan neoliberalisme di Asia, Amerika
Latin, dan Afrika).Di Indonesia kita juga melihat bahwa gerakan rakyat dan radikalisasi massa kian hari juga kian semarak.Bukan hanya di negara-negara kecil, terpencil, dan terbelakang seperti Nepal saja perlawanan terhadap globalisasi meningkat. Kebijakan-kebijakan perburuhan yang mengadopsi kelenturan. pasar tenaga kerja (labor market fl exibility) diterapkan baik di negara, negara maju dan juga negara berkembang seperti Indonesia esensinya Adalah pemotongan biaya produksi dengan cara memangkas kesejahteraan buruh untuk mensubsidi sistem neoliberal yang mengalami krisis.Epos berlawan semacam ini terjadi seiring dengan krisis kapitalisme global (neoliberalisme) yang melanda hampir di semua benua.Di Afrika Selatan, perlawanan kaum buruh dimotori oleh perlawanan rakyat melawan rezim apartheid.Sementara, aksi menentang perang AS dan sekutunya terhadap Irak pada 2003 membuktikan bahwa perang itu bukanlah perang apa pun kecuali dengan motif ekonomi.

B. KARL MARX
Karl Marx adalah seorang ilmuwan, sejarawan, ekonom, filsuf,
pemikir revolusioner—dan dia juga terlibat dalam aktivitas gerakan
buruh .Hal yang menarik dari pemikiran Marx adalah konsistensi
dan komprehensifnya pemikiran filsafatnya. Kelebihan marxisme sebagai ilmu adalah bahwa ia
memperlakukan realitas alam dan masyarakat sebagai totalitas

C. POKOK-POKOK PEMIKIRAN MARXISME
Karena materialisme historis sangat identik dengan filsuf, sejarawan,
dan ekonom termasyhur Karl Marx , ada baiknya dalam bab ini
penulis memfokuskan pembahasan pada pemikirannya, khususnya
untuk melengkapi pandangan materialisme sejarah dengan
pemikirannya yang lain tentang manusia dan masyarakat.

1. Materialisme Dialektika-Historis
Materialisme dalam dunia filsafat dipertentangkan dengan kubu
satunya lagi, yaitu idealisme . Idealisme dalam perspektif materialisme adalah kesalahan
terbesar sejarah filsafat .Filsafat idealisme menjauhkan pengetahuan dari materi, eksistensi materi, alam, dan struktur objektif.
2. M aterialisme Dialektika-Historis
a. Ekonomi Sebagai Basis
Efek pemikiran materialisme historis adalah menggali gerak
material dalam sejarah. Materialisme sejarah bukannya paham yang
mendorong manusia untuk mencari kepuasan materi sebanyak, banyaknya, bukannya ideologi materialisme-hedonisme, melainkan
cara pandang sejarah dan analisis cara berpr oduksi masyarakat
yang menjadi dasar gerak masyarakat ( social motion).
b. Kritik Terhadap Ekonomi Politik
Kritik terhadap ekonomi politik mer upakan bagian penting dari
pemikiran Karl Marx . Yang jelas analisis tersebut adalah penerapan prinsip materialisme
historis pada mode produksi kapitalis, dan berakar pada analisis
tentang kerja—tepatnya kerja yang teralienasi. Makna alienasi kerja, menurut Marx, adalah kerja bersifat
eksternal bagi pekerja aktivitas yang teralienasi. Marx menganggap alienasi aktivitas praktis manusia, yaitu kerja, berasal dari dua aspek:
• Hubungan pekerja dan pr oduknya sebagai objek asing yang menguasainya.
• Hubungan kerja dengan tindakan pr oduksi dalam kerja.
Jadi, upah yang dibayarkan oleh kapitalis bukanlah berdasarkan
berapa besar jumlah barang dan keuntungan yang diperoleh kapitalis
Jelas keuntungan yang didapat berasal dari hasil kegiatan

produksinya. Contoh sederhana, misalnya: 79 seorang bur uh di pabrik

garmen dibayar 20.000 untuk kerja selama 8 jam sehari.
c. K risis Kapitalisme

Beranjak dari Alienasi dan Teori Nilai Lebih, M arx juga

mengembangkan teori tentang krisis ekonomi
Jika kita ingat lagi bagaimana krisis ekonomi yang kini melanda

Indonesia sesungguhnya hanyalah imbas dari krisis yang telah

menyapu sebagian besar perekonomian kekuatan-kekuatan kapitalis

baru di Asia.
3. Perubahan Sosial Revolusioner dan P erubahan ke

Masyarakat Sosialis-Komunis

Produksi bisa secara sederhana kita definisikan sebagai usaha

menghasilkan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan aktual,

nyata.Karena ada per kembangan tenaga pr oduksi, fase-fase masyarakat

mengenal hubungan pr oduksi yang ter us berubah: dari komnune

primitif, fase kepemilikan budak , fase feodal, fase kapitalis, dan

akhirnya, menurut Marx, fase sosialis, dan fase komunis.
Tak terhindarkan lagi, pember ontakan pun dilakukan oleh

massa tertindas untuk menegaskan kekuatan pr oduksinya dan

melepaskan diri dari pengisapan yang dilakukan oleh penguasa yang

melanggengkan hubungan pr oduksi feodal waktu itu. M isalnya,

pemberontakan petani di Jerman (1524—1525). kaum monarki adalah kaum konser vatif dan kaum borjuis adalah

kaum progresif-revolusioner.Di Era ini, misalnya, kontradiksi antara buruh dan hubungan

produksi kapitalis sudah agak matang, sebentar lagi, menunggu

cara kerja neo-liberalisme sebagai tahap akhir kapitalisme
Dipengaruhi materialisme historis dalam menganalisis

perkembangan masyarakat ber dasarkan data-data sejarah konkr et,

Marx menegaskan “ ramalan”-nya itu dalam suatu Manifesto

Komunis yang ditulisnya bersama E ngels. Dapat kita perhatikan bahwa per kembangan

teknologi di bidang-bidang industri yang telah didominasi oleh

monopoli /oligopoli berjalan dengan sangat lambat. Marx telah memperingatkan dalam Manifesto Komunis bahwa

kapitalisme hanya dapat ber tahan jika ter us merevolusionerkan

dirinya.

4. T eori Kelas

Lenin menulis, “…Orang-orang selalu menjadi korban tipu muslihat

atau sering menipu diri sendiri dalam kehidupan politik dan mereka

akan terus bersikap demikian hingga akhirnya mer eka berhasil

mengetahui kepentingan-kepentingan Kelas di balik tabir tentang

moral, agama, sosial politik, dan janji-janji
Teori kelas merupakan teori sosial yang penting dari Karl Marx.Kesadaran kelas juga adalah bangunan sosial yang ada sepanjang

sejarah. Dari konsep mar xis, terjadinya kelas-kelas dalam masyarakat

disebabkan oleh per kembangan material pr oduksi sejarah

masyarakat.Masyarakat komune primitif ber ubah menjadi masyarakat

perbudakan seiring dengan ditemukannya alat-alat pr oduksi kuno

beserta akses-akses kepemilikan dalam struktur perbudakan. Masyarakat berkelas adalah masyarakat tempat terjadi

penindasan, tempat kerja kelas ter tentu yang may oritas diisap

oleh kelas yang dominan.
5. Teori Negara Marxis

Teori tentang negara telah menjadi perdebatan panjang di kalangan

pemikir dan fi lsuf.
Materialisme sejarah M arx memandang kondisi material

masyarakat sebagai basis struktur dari struktur sosial dan kesadaran

manusia.
Jadi, Marx menolak teori negara kaum liberal bahwa negara

adalah lembaga yang dibangun untuk kesejahteraan bersama

atau kepentingan umum.
D. SOSIOLOGI MARXIS VS SOSIOLOGI POST-MARXIS

Di atas kita telah membahas—meskipun hanya sedikit—pemikiran

marxisme tentang beberapa realitas sosial dan ekonomi-politik yang

penting berdasarkan landasan materialisme historis.
Oleh James Petras, komponen-komponen teoretis (-ideologis)

post-marxisme bisa diringkas sebagai berikut:
1. Sosialisme adalah sebuah kegagalan dan semua teori

kemasyarakatan secara umum menyalahkan jika ada yang akan

mengulanginya lagi.
2. Penekanan kaum M arxis pada kelas-kelas sosial adalah

“reduksionis” karena kelas-kelas melarutkan.
3. Negara adalah musuh demokrasi dan kebebasan.
4. Perencanaan terpusat mendatangkan dan menghasilkan birokrasi

yang menghalangi pertukaran barang di antara para pr odusen .
5. Perjuangan Kiri tradisional adalah kor up dan menghasilkan

rezim-rezim yang otoriter yang kemudian menyubor dinasikan

masyarakat sipil.
6. Revolusi selalu berakhir dengan bur uk atau tidak mungkin

bisa berhasil, per ubahan sosial akan memper kuat reaksi

provokatif dari penguasa.
7. Solidaritas kelas adalah bagian dari ideologi masa lalu yang

mencerminkan politik realitas masa lalu.
8. Perjuangan kelas dan konfr ontasi tidak menghasilkan sesuatu

yang nyata. Hanya akan menyebabkan kekalahandan kegagalan.
9. Anti-imperialisme juga merupakan milik masa lalu yang sudah

waktunya mati.
10. Pengorganisasian kerakyatan tidak boleh ter tutup dalam

mengorganisasi orang-orang miskin dan saling belajar tukar

pengalaman.

1. M arxisme Versus Posmodernisme
Posmodernisme (postmodernism) berasal dari dua kata, post dan

modernism. Istilah “post” di sini bisa diartikan ‘pasca’ atau ‘setelah’,

bisa juga diar tikan ‘tidak’. Sedangkan, modernisme merujuk pada

fi lsafat dan gaya berpikir modern yang bercirikan rasionalisme dan

logisme—atau oleh kaum posmodernis dicurigai bergaya pikir

“positivisme ”.
Kaum relativis bukannya mencari sumber ilmu pengetahuan

tempat realitas material yang akan dijelaskan menjadi acuannya,

tetapi justru sibuk pada makna manusia dalam memersepsikan

realitas.Ilmu pengetahuan tidak lepas dari perkembangan cara produksi

masyarakat.
Banyak alasan untuk mengatakan bahwa posmo adalah sebuah

anakronisme akademis, bukan karena kekacauan epistemologisnya,

melainkan juga karena model teori yang bisa dianggap ketinggalan

zaman.Tujuan ilmu pengetahuan adalah membantu upayanya

untuk mengubah r ealitas kenyataan alam atau kenyataan sosial

2. Marxisme Menolak Revisionisme
marxisme—selain selalu diserang

oleh ideologi kapitalis—mengalami serangan terus-menerus.pandangan itu menganggap bahwa kaum bur uh seakan

tidak berada dalam hegemoni kesadaran kapitalis—dan juga birokrat

partai SPD yang menikmati hidup enak.meskipun Kautskysme (dan

revisionisme lainnya yang lebih parah) diklaim sebagai “marxisme”,

namun sebenarnya isinya lebih mencerminkan kepentingan golongan

non-buruh.

3. Marxisme Versus “Neo-Marxisme” Habermas
Neo-marxisme identik dengan Teori Kritis (critical theory) mazhab

Frankfurt. Teori Kritis dikenal dengan tokoh-tokohnya, seper ti

Hokheimer , Adorno , Marcuse , Erich Fromm , dan yang paling

terkenal Habermas
sebenarnya dari pandangan

marxisme, “paradigma komunikasi ” Habermas dalam melihat evolusi

masyarakat justru “utopis” karena meninggalkan dasar material—

lagi-lagi “ketularan” fi lsafat idealisme. Ditegaskan oleh Ross Poole
jika pemahaman timbal balik diinginkan, tak ada jaminan bahwa

hal itu dapat dicapai meski dalam prinsip sekalipun. Kaum Marxis begitu yakin bahwa kemenangan r evolusi

proletariat akan berhasil dengan senjata-senjatanya, tidak perlu senjata

dalam makna fi sik sepanjang itu tidak diperlukan, tetapi dengan alat�alat dan strategi taktik r evolusioner: organisasi/partai kelas pekerja

sebagai vanguard-nya dengan pengorganisasian kerja-kerja yang

terpimpin dan berideologi M arxis sebagai panduan teor etisnya
Banyak kelemahan lain Habermas yang juga masih terhinggapi

oleh idealisme dalam pemikirannya.
Semakin jelas bahwa segala

bentuk ideologi dan teori yang menyerang, memutarbalikkan, dan

melenyapkan marxisme ternyata berada dalam arah kepentingan

kelas yang sama, borjuasi kecil dan kapitalis. I ni sekaligus menjadi

pokok kritik ideologi Karl M arx, yang berarti juga bisa menjawab

Kritik Ideologi Habermas dan neo-“marxisme."

BAB 4
DASAR-DASAR HUBUNGAN SOSIAL
DAN DINAMIKA MASYARAKAT
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial .
Sebagai makhluk individu, manusia merupakan satu unit
tubuh (dan jiwa) yang menjadi bagian kecil dari alam,
yang harus memenuhi dirinya berhadapan dengan posisinya sebagai
bagian dari alam. Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial .
Sebagai makhluk individu, manusia merupakan satu unit
tubuh (dan jiwa) yang menjadi bagian kecil dari alam,
yang harus memenuhi dirinya berhadapan dengan posisinya sebagai
bagian dari alam.Kita akan berkenalan
dengan pendekatan M aterialisme-Dialektika Historis (MDH)
yang dicetuskan oleh sosiolog J erman, Karl M arx.Memercayai bahwa gejala alam dan gejala sosial menghasilkan
pola-pola tertentu diharapkan akan membantu memahami gejala�gejala lain yang lebih kontekstual sifatnya.
1. Hukum I: Materi itu ada, nyata, dan konkret
Materi itu ada dan nyata dalam hidup . Kita bisa mengenalinya
melalui indra kita.
2. Hukum II: M ateri itu ter diri dari materi-materi yang lebih
kecil dan saling berhubungan (dialektis)
Jadi, dialektika adalah hukum keberadaan materi. M ateri-materi
kecil menyatu dan menyusun suatu kesatuan yang kemudian disebut
sebagai materi lainnya yang secara kualitas lain, karenanya namanya
juga lain.
3. Hukum III: Materi mengalami kontradiksi
Karena materi ter diri dari materi-materi yang lebih kecil, antara
satu materi satu dan lainnya mengalami kontradiksi atau saling
bertentangan.
Hubungan antara manusia dan materi-materi alam dihubungkan
secara produktif melalui apa yang disebut kerja. Kita juga dapat melihat hukum kontradiksi dan hukum
perubahan itu untuk melihat suatu hubungan masyarakat pada level
makro dan mikro.
4. Hukum IV: Materi selalu berubah dan akan terus berubah
Tidak sulit membuat kesepakatan terhadap rumus kehidupan bahwa:
tidak ada yang lebih abadi daripada per ubahan.
Pada hakikatnya, dialektika adalah lawan langsung dari
metafi sika. Ciri-ciri dialektika marxis adalah sebagai berikut:
a. Berlawanan dengan metafi sika, dialektika tidak memandang
alam sebagai tumpukan segala sesuatu
b. Berlainan dengan metafi sika, dialektika memandang bahwa alam
bukanlah suatu yang diam dan tidak bergerak atau tidak berubah.
c. Dialektika, tidak seper ti metafisika, menganggap pr oses
perkembangan sebagai pr oses pertumbuhan yang sederhana,
tempat perubahan-perubahan kuantitatif akan mengarah pada
perubahan kualitatif.
d. B ertentangan dengan metafi sika, dialektika berpendapat bahwa
kontradiksi-kontradiksi internal terdapat dalam semua benda dan
gejala alam karena semuanya mempunyai segi-segi yang negatif
dan positifnya,

B. DIMENSI NALURI MANUSIA: INSTING EROS (PENYATUAN,
CINTA) DAN INSTING TANATOS (KEMATIAN, KEBENCIAN)
DALAM HUBUNGAN MANUSIA
Bicara sosial hubungan sosial sesama manusia (individu yang
saling berinteraksi), kita juga har us melihat aspek psikologis yang
mendasari terjadinya gejala tersebut
manusia dipandang sebagai makhluk yang punya

keinginan-keinginan, kebutuhan, dan naluri. per kembangan anak tergantung pada

kenyamanan fi sik dan psikologis (rasa aman dan nyaman) yang

didapatkan dari ibu pada awal-awal per kembangannya.

C. LETAK IDE, MAKNA, DAN SIMBOL DALAM HUBUNGAN

SOSIAL

Setelah memahami dasar-dasar hubungan sosial sebagai dialektika�material karena hubungan itu adalah kenyataan, kemudian kita juga

harus memerhatikan aspek ide, makna, dan simbol dalam hubungan

sosial. hubungan sosial harus dipahami sebagai fenomena sosial

lebih luas melalui pencermatan individu.
“Konsep Interaksi Sosial” ketika di sini pr oses

pengambilan peran sangatlah pentin
g
D. MEMBANGUN HUBUNGAN YANG HARMONIS DAN

BERMARTABAT: CINTA, DEMOKRASI, DAN KESETARAAN

Hubungan yang tidak harmonis dan penuh kontradiksi akan

menghasilkan efek-efek kekerasan, ketidakper cayaan, sentimen

kelompok dan egoisme (individualisme ), keretakan kejiwaan, hingga

kejahatan yang meluas kar ena ketidakpercayaan bahwa hubungan

mendatangkan kebaikan.
1. U niversalisasi Hubungan

Dalam buku Manusia Tanpa Batas (2008) penulis menuliskan, “Jika

hidup adalah samudra, kita selalu ingin ber enang mengarunginya

agar kita dapat menggerakkan tubuh kita melawan alunan

gelombang.Masyarakat yang diwarnai dengan penindasan, ketika sedikit

orang mencari keuntungan dan mendapatkan kenikmatan hidup ,

akan memasung tiap-tiap individu hingga hubungan dengan dunia

dan orang-orang lainnya terbatas.
Hubungan sosial diikat dalam relasi yang menunjukkan adanya

dua kelas yang terisap dan diisap. Kedua kelas ini terkungkung dalam

kebodohan dan keterbatasan berpikir .
Dalam hubungan eksklusif , kedua orang dibangun oleh

kepentingan yang bersifat sempit dan mendesak (pragmatis),

misalnya kepentingan seks, kepentingan untuk membangun rumah

tangga, untuk melahir kan keturunan, atau kebutuhan psikologis.

Ikatannya sangat individual, terbatas pada kepuasan fi sik dan psikis
merupakan kecenderungan umum bahwa hubungan

yang kita bangun dengan orang-orang yang kepentingannya lebih

sama dengan kita biasanya akan membuat hubungan mengalami

“eksklusivitas”.
2. Hubungan Harus Bertujuan

Akan tetapi, har us kita sepakati pula bahwa yang membedakan

sebuah hubungan itu sempit atau univ ersal bukan pada dengan

berapa banyak orang kita membangun hubungan.
3. Hubungan Butuh (Patokan) Nilai

Nilai adalah patokan yang har us dimiliki bersama. Tanpa nilai,

hubungan memang tak akan dapat dijalankan secara serius karena tak

ada patokan.
4. Kesetaraan dalam Hubungan

Hubungan demokratis dipilari oleh elemen-elemen, seperti kesetaraan

dan kemandirian. Hanya dengan kesetaraanlah hubungan dominasi�subordinasi dapat dihilangkan.
5. Hubungan Membutuhkan Pemahaman/Pengetahuan

Tak jarang di antara orang-orang itu menjalin hubungan yang

pragmatis. Hubungan pragmatis tentunya tak disadari oleh motivasi

yang kuat untuk membangun hubungan kecuali hanya untuk

memenuhi kepentingan sempitnya.

Baca juga

Posting Komentar